ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Kamis, 07 Juni 2012

Pelajaran Indah dari Semut

Bilamana kita mencermati keadaan semut dan apa yang dikaruniakan kepadanya berupa kecerdasan, cara mengangkat makanan dan menyimpannya serta mengatasi gangguan dihadapannya, niscaya akan mendapat pelajaran berharga dan tanda-tanda kebesaran Alloh Subhanahuwata’ala.

Sebuah rombongan semut ketika hendak mencari makanan mereka keluar bersama-sama dari liangnya untuk mencari makanan. Apabila telah menemukan, ia segera membawanya kembali ke liangnya. Akan kita dapati dua barisan. Barisan pertama yang merayap menuju lubang untuk membawa makanan dan barisan yang keluar dari liang tidak saling bertabrakan, seperti sekelompok manusia yang berjalan ke suatu arah dan kelompok lain ke arah yang berlawanan berada di sisi lain. Bila merasa berat dalam mengangkat makanan, maka berkumpullah sekelompok semut untuk saling membantu dalam mengangkatnya seperti layaknya manusia yang bergotong-royong mengangkat kayu atau batu.

Kalau yang menemukan makanan itu salahsatu dari mereka, maka teman-temannya yang lain segera membantunya. Apabila yang menemukan bersamaan, maka mereka saling bergotong-royong lalu membagi hasilnya di depan pintu. Sebuah pemandangan yang bagus tatkala seekor semut menemukan potongan tubuh belalang, kemudian ia berusaha mengangkatnya namun ia tidak kuat, maka ia pergi ke tempat yang tidak jauh dan kembali dengan segerombolan semut yang lain.

Pada saat segerombolan semut tersebut sampai di tempat itu, semut itu berputar-putar mencari potongan tubuh belalang. Ketika mereka tidak bias menemukannya, mereka kembali ke tempatnya. Lalu potongan tubuh belalang itu diletakkan kembali di tempat semula, kemudian semut yang pertama menemukan kembali dan ia berusaha mengangkatnya sendiri, tapi ia tidak kuat. Kemudian ia kembali ke tempatnya dan kembali dengan satu rombongan semut, ternyata potongan tubuh belalang itu sudah hilang hingga semut-semut itu tidak bisa menemukannya. Apa yang terjadi? Gerombolan semut itu mengelilingi semut yang pertama lalu mengangkatnya dan beramai-ramai memotong tubuh semut itu sepotong demi sepotong.

Diantara keajaiban semut adalah kecerdikannya tatkala membawa sebiji gandum ke dalam liangnya, ia memotongnya agar biji itu tidak bisa tumbuh menjadi tanaman. Apabila termasuk biji-bijian yang bisa tumbuh meskipun dipotong menjadi dua, maka ia memotongnya menjadi empat. Apabila makanannya terkena air dikhawatirkan akan rusak, maka ia membawanya kembali setelah kering. Oleh karena itu terkadang kita mendapatkan tumpukan potongan biji-bijian di sekitar liang semut namun dalam tempo yang tidak terlalu lama segera hilang tanpa sisa.

Cukuplah sebagai bukti akan kecerdikan semut, sebagaimana yang telah difirmankan oleh Alloh Subhanahuwata’ala, “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (An-naml: 18). Seruan tersebut mencangkup sepuluh nasihat, yaitu seruan, peringatan, penyebutan, perintah,larangan, ancaman,pengkhususan, pemahaman, pengumuman dan permohonan. Nasihat tersebut mencangkup sepuluh macam ungkapan ini meskipun diucapkan dengan singkat. Karena itulah Nabi Sulaiman ‘Allaihissalam merasa akjub dan tersenyum mendengarnya serta memohon kepada Alloh Subhanahuwata’ala agar memberikan rasa syukur kepadanya atas nikmat yang diberikan kepadanya berupa kemampuan dapat memahami pembicaraan semut tersebut.

Dari pelajaran ini, paling tidak menjadi perhatian bagi kita, sesungguhnya kepentingan kita adalah satu karena kita diciptakan untuk tujuan yang satu yaitu beribadah kepada Alloh Subhanahuwata’ala. Kalaupun terjadi perbedaan kepentingan tidak menimbulkan gesekan. Perbedaan kepentingan itu bukanlah hal yang prinsip, sebenarnya kepentingan kita satu yaitu menggapai ridlo Alloh Subhanahuwata’ala.

Memang kehidupan kita saat ini telah terpecah oleh berbagai kepentingan, ada kepentingan politik, ada kepentingan kelompok dan golongan bahkan ada pula kepentingan yang mengatasnamakan rakyat. Sulit kita membedakan mana yang benar-benar tulus untuk kepentingan bersama, mana pula yang mengeksploitasi kepentingan bersama untuk kepentingan pribadi, sudah campur aduk, sulit membedakan mana yang putih dan mana yang hitam, justru yang banyak adalah abu-abu. Wallahua’lam.

Sumber: al-waabil ash-shayyib min al-kalimi ath-thayyib, Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Nabila edisi 07 Des 2004)