ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Jumat, 16 Maret 2012

STRES


Stres atau ketegangan mental merupakan penyakit yang sulit diukur secara objektif. Karena sulit diukur, banyak orang merehkan stres. Sering melupakan bahwa sebagian korban serangan jantung sekaligus juga korban stres. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan bereaksi dengan cara menghasilkan hormon adrenalin dan kortisol.


Kedua hormon ini memiliki efek meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, laju pernafasan, dan membuat otot-otot tegang. Lemak-lemak dan faktor penggumpalan darah meningkat dan pencernaan berhenti bekerja ketika seseorang mengalami stres. Semua ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan diri dari tubuh saat menghadapi stres. Akan tetapi, jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, sama saja artinya dengan menyodorkan diri kepada penyakit.

Menurut teori General Adaption Syndrome, jika dibiarkan berlarut-larut, stres dapat menyebabkan kerusakan jiwa dan tubuh. Lambat atau cepatnya kerusakan tersebut sangat tergantung pada kadar stresor (penyebab pemicu stres) dan daya tahan seseorang untuk mengatasi indikasinya. Daya tahan ini sangat berkaitan dengan faktor gizi, olah raga, keturunan dan tipe kepribadian. Dalam memandang stres, yang terpenting diperhatikan adalah kadarnya. Gejala seseorang menghadapi stres mudah diketahui penderitanya. Stres tidak selamanya berarti negatif. Jika seseorang mampu mengelola stres dengan baik, justru stres menyebabkan peningkatan prestasi kerja dan pendorong semangat hidup.

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan irama tubuh ketika seseorang mengalami stres? Dalam kondisi stres, gerakan jantung lebih kuat dan tekanan darah lebih tinggi. Aliran darah bergerak lebih kuat dan tekanan darah lebih tinggi. Aliran darah bergerak menjauhi daerah perut karena darah banyak mengalir kearah jantung dan organ-organ saraf serta otot, proses fungsi kimia tubuh dan mesin pencernaan terganggu, limpa menciut sambil melepaskan persediaan butir-butir darah yang ada padanya. Gula yang tersimpan dalam hati akan dialirkan ke pembuluh darah. Reaksi kimia tubuh ini adalah jawaban atas sinyal-sinyal emosi, seperti takut, marah, sedih, kecewa yang sampai ke otak dan selanjutnya turun ke kelenjar-kelenjar hormon yang terdapat di seluruh tubuh. Ketika sedang stres, hipofisis memberi perintah kepada kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan noradrenalin.